Pengertian, Syarat Dan Hukum Sewa Menyewa Dalam Islam

Artikel terkait : Pengertian, Syarat Dan Hukum Sewa Menyewa Dalam Islam


A. Pengertian Sewa Menyewa
Manusia merupakan makhluk sosial, yang berarti saling membutuhkan dan tidak dapat hidup sendiri. Dalam Islam hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya di sebut dengan istilah muamalah. Muamalah adalah perbuatan manusia dalam menjalin hubungan atau pergaulan manusia dengan manusia, cakupan muamalah sangat luas sekali, diantaranya adalah jual beli, hutang piutang, upah, sewa meyewa dan lain-lain. 

Sewa menyewa merupakan salah satu akad yang ada dalam muamalah, dalam fiqh islam sewa menyewa  disebut sebagai akad ijarah. ijarah yaitu akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi pemindahan kepemilikan.

Sewa menyewa adalah melakukan akad mengambil manfaat sesuatu yang diterima dari orang lain dengan jalan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah di sepakati, dengan rukun dan syarat-syarat sebagai berikut:


B. Syarat Dan Rukun Sewa Menyewa
Menurut ulama Hanafiyah, rukun sewa-menyewa hanya satu yaitu ijab (ungkapan menyewakan) dan qabul (persetujuan terhadap sewa menyewa). Sedangkan Jumhur ulama berpendapat bahwa rukun sewa-menyewa ada empat yaitu: 1) Orang yang berakal, 2) Sewa atau imbalan, 3) Manfaat, 4) Sighad (ijab dan qabul).

Berikut ada beberapa syarat dan rukun dalam sewa-menyewa:
1) Yang menyewakan dan yang menyewa harus baligh dan berakal sehat
2) Sewa menyewa di langsungkan atas kemauan masing-masing, bukan karena terpaksa
3) Barang tersebut menjadi hak sepenuhnya orang yang menyewakan, atau wali nya
4) Manfaat yang akan di ambil dari barang tersebut harus di ketahui secara jelas oleh kedua belah pihak
5)Barangnya ditentukan serta keadaan dan sifat-sifatnya
6) Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus di sebutkan dengan jelas
7) Harga sewa dan cara pembayaran nya harus di tentukan dengan jelas dan telah disepakati bersama.

C. Hukum Sewa Menyewa
Menurut ijma’ ulama Hukum sewa menyewa adalah boleh. dan islam pun telah memperbolehkannya  sewa menyewa.  dikarenakan bentuk muamalah sewa menyewa ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia, karena itulah islam memperbolehkannya. 

Seseorang terkadang dapat memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya tanpa melakukan pembelian barang, seperti sewa menyewa. karena memiliki uang yang terbatas, seseorang tidak mesti memilikinya namun boleh menyewakannya. Seperti seseorang yang belum mampu membeli rumah sendiri, ia boleh menyewakan rumah kontrakan. Atau menyewakan mobil untuk mengangkut barang, nanti hasilnya dibagi dua. Dan lainnya.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
Dari Ibrahim bin Musa, mengabarkan kepada kita Hisyam dari Ma’marin dari Zuhri dari ‘Urwah bin Zubair dari ‘Aisyah, Radhiyallahu ana, berkata : “Rasulullah SAW  dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki yang pintar sebagai petunjuk jalan. Laki-laki itu berasal dari bani ad-Dil, termasuk kafir Quraisy. Beliau berdua menyerahkan kendaraannya kepada laki-laki itu (sebagai upah), dan keduanya berjanji kepadanya akan bermalam di gua Tsaur selama tiga malam pada pagi yang ketiga, keduanya menerima kendaraannya.” (HR. Bukhari)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa sewa menyewa itu diperbolehkan dalam Islam, karena pada dasarnya manusia serba keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, manusia antara yang satu dengan yang lainnya  saling membutuhkan. Dan sewa menyewa adalah salah satu bentuk aplikasi keterbatasan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Seperti halnya tidak semua orang bisa membeli rumah, namun ia dapat menempatinya dengan cara menyewa, dan tidak semua orang bisa membeli mobil, namun ia bisa menggunakannya dengan cara menyewa. Maka dari itu, mu’amalah sewa-menyewa mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehar-hari kita, asalkan mengikuti tata cara dan auturan yang telah diatur didalam syariat islam. Wallahu ‘alam…


Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam