Pengertian Dan Perbedaan Haid, Nifas Dan Istihadhah

Artikel terkait : Pengertian Dan Perbedaan Haid, Nifas Dan Istihadhah


Setiap wanita pasti akan mengalami haid, nifas. Dan jarang yang mengalami istihadhah. Ketiga darah ini keluar dari kemaluan wanita. Ketiga-tiganya adalah sama-sama darah, namun memiliki perbedaan, baik dari cara keluarnya, jumlah harinya, dan cara mensucikannya.

Pembahasan tentang inilah yang sering dipertanyakan oleh kaum wanita, karena masih banyak wanita muslimah yang belum memahami perbedaan dari ketiga darah ini. Mungkin ini dikarenakan darah tersebut keluar dari jalur yang sama, namun pada setiap wanita tentulah keadaannya tidak selalu sama, dan berbeda pula hukum dan penanganannya. Berikut akan dijelaskan lebih rinci mengenai pengertian dan perbedaan darah haid, nifas dan istihadhah.


1) Darah haid
Haid adalah darah yang keluar dari rahim wanita pada waktu-waktu tertentu, dan bukan karena disebabkan oleh suatu penyakit atau karena adanya proses persalinan. dimana keluarnya darah haid itu merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada setiap wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman dan kental,  bersifat panas dan dan memiliki bau yang tidak sedap. 

Haid keluar dalam jangka waktu tertentu, Secepat-cepatnya masa haid  adalah sehari semalam atau 24 jam lamanya, atau pada  kebiasaannya adalah 6-7 hari. Dan selama-lamanya adalah 15 hari 15 malam. jika keluarnya melebihi 15 hari maka itu bukan haid lagi namanya tetapi itu adalah darah istihadhah (darah penyakit).

Ada yang ketika keluar haid didahului dengan lendir kuning kecoklatan, dan ada pula yang langsung berupa darah merah hitam yang kental. Nah pada setiap kondisi inilah yang harus dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan ciri darah haid ini kita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar kemudian. 

Haid merupakan kotoran, jadi saat wanita mengalami haid, maka haram melakukan shalat, puasa, menyentuh quran, dan membacanya.  Namun setelah ia suci dari haid maka diwajibkan untuk mandi hadas besar. 

2) Darah nifas
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita setelah melahirkan. Darah ini sangat mudah dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu setelah melahirkan.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata bahwa darah nifas itu ialah darah yang keluar karena persalinan, baik itu bersamaan dengan proses persalinan ataupun sebelum dan sesudah persalinan tersebut yang umumnya disertai rasa sakit. sedangkan bila tidak ada proses persalinan, maka itu bukan darah nifas.

Darah yang keluar dar kemaluan seorang wanita setelah melahirkan anak, apakah anak yang dilahirkan itu hidup atau meninggal, maka darah yang keluar setelahnya itu disebut darah nifas. walaupun anak yang keluar itu hanya sebentuk daging saja (keguguran), tetap saja darah yang keluar mengiringi kelahirannya itu disebut darah nifas.

Secepat-cepatnya nifas adalah seperludahan saja atau beberapa detik saja, kebiasaan wanita nifas adalah 40 hari 40 malam. dan selama-lamanya masa nifas adalah 60 hari 60 malam.

Jika setelah 60 hari wanita tersebut terus mengeluarkan darah, maka dia wajib mandi besar, dan emnyumbat darah tersebut dengan kapas. Karena darah itu bukan lah darah nifas melainkan darah istihadhah (darah penyakit). larangan wanita nifas sama dengan larangan wanita haid yaitu, shalat, puasa, menyentuh Qur’an dan membacanya.  

3) Darah istihadhah (penyakit)
Istihadhah adalah darah yang keluar dari faraj wanita di luar kebiasaannya, yaitu bukan pada masa haid dan bukan pula karena habis melahirkan.  Dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit. 

Sifat darah istihadhah pada umumnya berwarna merah segar seperti darah biasa, encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia akan berhenti setelah keadaan normal atau darahnya mengering. 

Dari Aisyah Rdhiyallahu ‘anha ia berkata, Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi SAW lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?” Maka jawab Rasulullah SAW: “Tidak! sesungguhnya itu (berasal dari) sebuah otot, dan bukan haid. Jadi, apabila haid itu datang maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila ukuran waktunya telah habis, maka cucilah darah dari tubuhmu lalu shalatlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang mengalami darah istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga dia tetap wajib  shalat seperti biasa, berpuasa, dan lain-lain. Namun Satu kali berwuduk untuk satu kali sholat yang fardhu dan boleh untuk beberapa kali sholat sunat. Dengan syarat sudah masuk waktu shalat barulah ia berwuduk untuk melakukan shalat fardhu.

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam