Makna Upah Dalam Pandangan Islam

Artikel terkait : Makna Upah Dalam Pandangan Islam


Islam adalah agama yang sangat indah , didalamnya telah diatur semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal muamalah. Muamalah adalah hubungan antara seorang manusia dengan manusia lain, dalam artian kata setiap manusia saling membutuhkan satu sama lain. Seperti halnya hidup didunia ini. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Semuanya mempunyai hikmah. Allah memberikan sikaya agar ia dapat membantu orang lain. Dan Allah memberikan simiskin agar ia dapat membantu orang kaya, dengan cara bekerja pada orang kaya, sehingga setelah ia bekerja akan memperoleh upah dari sikaya tersebut. 
Berbicara tentang upah, upah menurut bahasa adalah imbalan terhadap suatu pekerjaan. Sedangkan menurut istilah syara’ Upah adalah imbalan yang didapat oleh seseorang atas pekerjaannya, baik itu dalam bentuk imbalan materi di dunia (uang) dan dalam bentuk imbalan di akhirat (pahala).

Upah merupakan salah satu kewajban penting yang harus diberikan kepada pekerja, karena upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang atau barang  sebagai bentuk imbalan kepada pekerja, yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja (kontrak kerja) dalam kesepakatan bersama. 

Dalam hal pemberian upah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita agar disegerakannya pemberian hak pekerja (upah), sebelum kering keringatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu Majah)
Maksud dari hadis diatas adalah menyegerakan menunaikan hak pekerja setelah selesai melakukan pekerjaannya, begitu juga dimaksud jika telah ada kesepakatan pemberian upah terlebih dahulu, baik itu upah perhari, upah perminggu atau upah perbulan. 

Dan maksud dari memberikan upah sebelum kering keringatnya adalah merupakan ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan upah setelah pekerja menyelesaikan pekerjaannya, dan ketika pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya memang benar-benar kering.
Selain itu, pekerja juga mempunyai hak dalam islam, tidak boleh diperlakukan dengan semena-menanya. Misalnya seorang pembantu/karyawan. Islam memposisikan pembantu/karyawan sebagaimana saudara majikannya. Sebagaimana disebutkan didalam Hadis Rasulullah SAW:
 Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Saudara kalian adalah budak kalian, Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian.” (HR. Bukhari).

Hadis tersebut menjelaskan kepada kita agar kita memperlakukan pembantu atau karyawan dengan baik, tidak boleh membeda-bedakan pembantu/karyawan dalam urusan jabatan. karena kita adalah rekan kerja dan harus menyetarakan derajatnya.

Kita, pembantu atau karyawan, disisi Allah adalah sama derajatnya. tidak ada yang membedakan, kecuali iman dan amal. Oleh karena itu perlakukan pembantu/karyawan mu dengan baik, jangan suruh ia kerja paksa, mentang-mentang ia seorang pembantu. Kalau jam istirahat, berikan waktu untuk dia beristirahat, karena pekerja juga harus mendapatkan jam istrahat, agar stamina perkerja kembali pulih dan fresh, karena pekerja kita adalah manusia, bukan robot yang dapat terus menerus melakukan pekerjaan tanpa beristirahat. 

Dan  islam pun melarang memberikan beban tugas kepada pembantu/karyawan melebihi kemampuannya. Jikapun terpaksa itu harus dilakukan, Beliau perintahkan agar sang majikan turut membantunya. Hal ini sebagaimana disebutkan didalam Hadis Rasulullah SAW:
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, Rasululah SAW bersabda: “Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut jelas disebutkan bahwa hak pekerja jangan di bebani oleh pekerjaan yang berat, jika terpaksa maka si majikan (manajer/bos) dapat memberikan bonus kepada karyawan/pembantu sebagai upah tambahan jam.

Selain itu majikan (manajer/bos) wajib untuk memberikan upah/gaji pegawainya tepat waktu, tanpa dikurangi sedikit pun.  Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa upah wajib diberikan sebelum kering keringatnya. Artinya, kita tidak boleh menunda nunda dalam hal pemberian upah ataupun gaji, karena itu merupakan hasil peras keringat pekerja.

Nah untuk memotivasi para majikan/bos agar tidak menzalimi pembantunya dan agar meringankan beban pegawai dan pembantu, maka  mari kita simak hadis yang diriwayatkan oleh Amr bin Huwairits, Rasulullah SAW Bersabda: “Keringanan yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu.” (HR. Ibnu Hibban)

Tentunya ini yang harus dilakukan oleh setiap majikan (manajer/bos) agar terus menerus melakukan motivasi kepada pekerjanya, bahkan dalam hal ini majikan (manajer/bos) memberikan apresiasi ataupun bentuk reward kepada karyawan yang rajin dan teladan, agar para pekerja bertambah semangat lagi dalam bekerja, dan tentunya ia betah bekerja dengan kita.

Semoga bermanfaat!



Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam