Hukum Hutang Piutang Dalam Islam

Artikel terkait : Hukum Hutang Piutang Dalam Islam


Hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian bahwa dia akan mengembalikan sesuatu yang diterimanya dalam jangka waktu yang telah disepakati.
Hutang piutang dalam islam merupakan hal yang lazim sifatnya. Karena kita sesama manusia saling membutuhkan satu sama lain. Ada orang kaya dan ada pula orang miskin. Allah memberikan ia kaya supaya dapat membantu si miskin. Dan Allah memberikan ia miskin supaya dapat menolong orang kaya. Misalnya bekerja pada orang kaya tersebut. Sehingga hidup ini saling melengkapi satu sama lain. 



Islam memperbolehkan utang piutang. dengan tujuan supaya dapat membantu satu sama lain. Dikarenakan keadaan ekonomi terkadang memaksa seseorang untuk meminjamkan uang (hutang). Namun sayangnya, banyak yang menyalah gunakan kepercayaan tersebut dengan tidak membayar hutang tepat pada waktunya. Bahkan, ada juga yang sengaja berpura-pura lupa. Itulah kenyataan yang terjadi dikalangan kita sekarang.

Ada orang yang saat meminta pinjaman (hutang), dia sangat baik dengan kita. namun disaat kita menagih hutangnya, maka terjadilah permusuhan. Padahal islam telah mengatur permasalahan ini semua. 

Nah yang jadi pertanyaannya sekarang adalah :
Bagaimana hukum hutang piutang dalam islam?
Sebenarnya hukum hutang piutang adalah boleh, selama bertujuan baik untuk membantu atau mengurangi kesusahan sesama muslim. Namun ini semua tergantung bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 245:
Yang artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)

Ayat tersebut  menganjurkan kita untuk saling berbagi atau memberi pinjaman kepada orang lain. Dalam artian kata saling bantu membantu orang yang membutuhkan. Seperti memberi pinjaman kepada orang yang lagi kesusahan misalnya dengan memberi hutang kepada mereka. 

Contoh hutang piutang pada masa Rasulullah SAW adalah:
Kala itu Rasulullah SAW pernah berhutang kepada seorang Yahudi, hutang tersebut dilunasi dengan sebuah baju besi yang digadaikan.
“Nabi SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya.” (HR. Bukhari )

Meski dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah berhutang, namun bukan berarti nabi gemar berhutang. Justru Sebaliknya, Rasulullah sangat menghindari aktivitas hutang piutang jika tidak dalam keadaan terpaksa. 

Hal tersebut diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiallaahu ‘anha:
 “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang."

Memang berhutang bukan sebuah perbuatan dosa. Namun, aktivitas hutang piutang yang tak terkendali inilah yang akan mengarahkan seseorang kepada perbuatan munkar. Seperti berdusta dan ingkar janji , ini semua akan menjadi sarapan sehari-hari bagi orang yang sudah terlilit oleh hutang.
Bahkan  segala hal akan menjadi benar asalkan dapat menambah jumlah nominal hutangnya. Hal seperti inilah yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW. 

Boleh dikatakan bahwa hutang hanyalah sebatas pintu darurat disaat kita sudah tidak lagi memiliki uang atau apapun untuk bertahan hidup. Dia berhutang karena untuk menyambung hidupnya. Bukan untuk berfoya-foya atau mengikuti trend gaya hidup.

Namun pada kenyataanya, sering sekali kita lihat banyak orang yang memanfaatkan uang hasil hutang untuk sekedar mengikuti gaya hidupnya. Bahkan yang sangat menyedihkan, ketika pinjaman yang satu belum lunas, orang tersebut meminta pinjaman lagi untuk kedua kalinya, anehnya  jika tidak diberikan lagi, maka sipehutang tersebut menjelek-jelekkan ia dibelakangnya. Seperti bilang kepada teman-teman lain bahwa si A itu pelit. Itulah yang terjadi sekarang. Bahkan kalau kita minta dilunasi hutang kita, bukan kebaikan yang terjadi tapi malah permusuhan yang terjadi. 

Makanya Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk tidak berhutang. Kecuali dalam keadaan tidak ada apa-apa lagi untuk bertahan hidup. Karena jika anda berhutang dan tidak membayar hutang tersebutmaka akan berakibat fatal diakhirat nanti. Nauzubillah!

Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa hutang piutang dalam Islam merupakan hal yang diperbolehkan. Asalkan, sang peminjam berkomitmen untuk mengembalikan pinjamannya tepat pada waktunya. Yang terpenting lagi adalah, orang tersebut harus dapat memanfaatkan uang pinjaman sebatas untuk keperluan  yang  mendesak. Pinjaman dengan menggadai barang merupakan salah satu metode pinjam meminjam yang aman untuk mencegah prilaku konsumtif dan abai dari tanggung jawab membayar hutang.

Demikian, semoga bermanfaat!

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam