Hukum Gadai Dalam Pandangan Islam

Artikel terkait : Hukum Gadai Dalam Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sangat indah, secara komprehensif segala aspek kehidupan telah diatur didalam islam. mulai dari hal ibadah sampai kepada hal muamalah. Seperti dalam hal jual beli,sewa menyewa, utang piutang.

Islam sanat memudahkan kehidupan manusia, disaat seseorang tidak mempunyai harta atau uang, sedangkan ia sangat membutuhkannya, maka dia boleh meminjam harta atau uang kepada orang lain baik dengan jaminan atau tanpa jaminan, demi terpenuhi kebutuhan yang diinginkannya. Adapun barang yang dijadikan jaminan itu disebut dengan barang gadai.


Secara bahasa gadai artinya “tertahan” . menurut ahli fiqh gadai adalah: barang yang dijadikan sebagai jaminan hutang apabila tidak dapat melunasinya. Sedangkan menurut istilah syara’, gadai adalah harta  yang dijadikan sebagai jaminan hutang  agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dikemudian hari ia gagal atau berhalangan dalam melunasinya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gadai adalah harta atau benda yang dijadikan sebagai jaminan saat berhutang kepada seseorang, agar jikalau seseorang tersebut tidak dapat melunasi hutangya lagi, maka setidaknya dapat dilunasi dengan sebagian dari nilai barang gadainya tersebut.

Contoh Gadai:
Misalnya jika seseorang hutang kepada anda senilai 5 juta. Lalu ia memberikan sebuah barang yang nilainya sebesar 6 juta sebagai jaminan hutangnya. Maka jika dikemudian hari ia tidak mampu melunasi hutangnya, maka nilai barang tersebut dapat dilunasi dengan menjual barang gadai (jaminan) tersebut.

Contoh lain misalnya jika ada seseorang yang memiliki hutang kepada Anda senilai Rp 5 juta. Kemudian ia memberikan kepada Anda suatu barang yang nilainya 3 juta sebagai jaminan hutangnya. Dalam hal ini ini sebagian hutang dapat dilunasi dengan nilai barang gadai tersebut, dan sebagian lagi dibayar oleh pe-hutang tersebut.

Nah dari kedua contoh di atas, baik nilai suatu barang gadaian tersebut lebih besar ataupun lebih kecil dari jumlah hutang, maka hukumnya tetaplah sama yaitu diperbolehkan, asal meengikuti aturan dan syarat yang ditentukan oleh agama, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

Hukum Gadai Dalam Islam
Hukum gadai dalam islam adalah diperbolehkan. Sebagaimana yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 283:

Yang artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabb-nya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha-mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 283)

Selain itu, dikuatkan dengan Hadis Nabi SAW:
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang Yahudi, kemudian beliau menggadaikan perisai perangnya. (HR. Bukhari dan muslim)

Dari dua dalil tersebut, maka sangat jelas bahwa hukum gadai adalah boleh.
Ada dua permasalahan yang terjadi dimasyarakat kita. kedua permasalahan tersebut kini menjadi problema besar yang selalu dipertanyakan.

Pertama: Bolehkah barang gadai dimanfaatkan oleh pemegang barang?
Mayoritas ulama, berpendapat bahwa barang yang sedang digadaikan tidak boleh dimanfaatkan oleh pemegang barang, kecuali dengan seizin pemilik barang. Hal ini disebabkan karena pemegang barang tidak memilikinya, karena barang tersebut hanya sekedar amanah, sehingga tidak berhak memanfaatkannya. Hal ini berdasarkan Hadis Nabi SAW:
“Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari (pemilik)nya.” (HR. Al-Bani)

Kedua: Apabila telah jatuh tempo pembayaran hutang, bagaimana?
Nah apabila telah datang waktu yang disepakati untuk pembayaran hutang (sudah jatuh tempo), maka ada beberapa kemungkinan yang terjadi, diantaranya adalah:
1) Apabila telah jatuh tempo pembayaran hutang dan penggadai (pemilik barang) telah mempunyai uang untuk melunasi hutangnya, maka dia harus bersedia membayar hutangnya, dan mengambil kembali barang gadai tersebut yang telah ia jadikan sebagai jaminannya. Karena kewajiban setiap orang yang mempunyai tanggungan, menepati perjanjian dan tidak mengingkarinya, sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad perjanjian kalian.” (QS. al-Maidah: 1)

2) Apabila penggadai atau pemilik barang tidak bisa melunasi hutangnya disebabkan ketidakmampuannya, maka disyari’atkan bagi pemegang barang untuk bersabar menunggu sampai penggadai (pemilik barang) mampu dan bisa membayar hutangnya, sedangkan penggadai tersebut  harus berusaha mendapatkan harta untuk bisa melunasi hutangnya, karena ini merupakan tanggungannya. Sebagaimana Firman Allah SWT:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Dan Pemilik barang masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kembali barang yang digadaikannya, dan barang tersebut masih tetap hak milik penggadai sebagaimana sabda Nabi SAW:
Ibnu Atsir mengatakan ,”Termasuk perbuatan kaum jahiliyah, apabila penggadai(pemilik barang) tidak mampu melunasi hutangnya, maka secara otomatis barang tersebut menjadi milik pemegang barang, Agama Islam membatalkan anggapan seperti ini.”
Namun apabila pemegang barang ingin menarik atau menuntut haknya karena dia lagi membutuhkannya, maka dia berhak menuntut haknya supaya pemilik barang tersebut bersedia menjual barang yang digadaikanya, dan hasil penjualan barang gadai dipakai untuk melunasi hutangnya.

3) Apabila penggadai atau pemilik barang tidak mau melunasi hutangnya, padahal ia dalam keadaan mampu untuk melunasi hutangnya, maka hakimlah yang menghukumi masalah tersebut. Dan barang gadai harus dijual, dan hasil penjualannya dipakai untuk melunasi hutang-hutangnya, walaupun penggadai atau pemilik barang tidak rela barangnya dijual. Hal ini telah disepakati oleh para ulama fiqh.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa gadai diperbolehkan dalam islam asalkan mengikuti aturan yang telah disebutkan diatas yang sesuai dengan syariat islam. Adapun sistem pegadaian yang ada di tanah air kita sekarang, maka tidaklah bisa dihukumi secara umum diperbolehkan, terutama apabila didalamnya ada sistem-sistem yang berselisih dengan syari’at Islam. Wallahu a’lam…

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam