Adab Bercinta Dalam Islam

Artikel terkait : Adab Bercinta Dalam Islam


Islam adalah agama yang indah, didalamnya telah diatur semua aspek kehidupan manusia dengan baik. Salah satunya adalah adab dan bagaimana tata cara bercinta dalam islam. hal ini dilakukan supaya dalam berhubungan suami istri tahu bagaimana aturannya dalam islam. karena berhubungan bukan hanya melampiaskan hawa nafsu tetapi mengikuti aturan islami yang telah ditetapkan oleh syariat. Sehingga tidak menyimpang dengan tuntunan Al-Quran dan sunnahnya.



Diantara adab-adab bercinta pasangan suami istri dalam islam adalah:

1) Salat sunat dua rakaat sebelum melakukan hubungan suami istri
Sebelum melakukan hubungan, disunnahkan bagi pasangan suami istri untuk melakukan shalat sunnat dua rakaat bersama-sama.

Syaikh Al Albani dalam Adabuz Zifaf menyebutkan dua atsar yang salah satunya diriwayatkan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf dari sahabat Abu Sa’id, bekat budak sahabat Abu Usaid, beliau mengisahkan bahwa semasa masih menjadi budak ia pernah melangsungkan pernikahan. Ia mengundang beberapa sahabat Rasulullah SAW, diantaranya Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah. Abu Sa’id mengatakan: “Mereka pun membimbingku, mengatakan, “Apabila istrimu masuk menemuimu maka shalatlah dua rakaat. Mintalah perlindungan kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari kejelekan istrimu. Setelah itu urusannya terserah engkau dan istrimu.” Dalam riwayat Atsar yang lain Abdullah bin Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, perintahkan isrtimu shalat dibelakangmu.”

2) Memperindah diri dengan seindah-indahnya
Bagi pasangan suami istri, sebelum melakukan malam pertamanya, sangat disukai untuk memperindah diri masing-masing dengan berhias, memakai wewangian, dan bersiwak. Agar saat berhubungan nanti kedua-duanya sama-sama bersih dan wangi, sehingga memperolehlah kenikmatan yang diinginkan.  Selain itu, juga mempercantik kamarnya, agar indah saat dipandang. Sehingga terjadilah suasana romantisme. 

Sebagaimana disebutkan didalam sebuah Hadis :
Dari Asma’ binti Yasid Radhiyallaahu ‘anha ia menuturkan: “Aku merias Aisyah untuk Rasulullah SAW. Setelah selesai, aku pun memanggil Rasulullah SAW. Beliau pun duduk di sisi Aisyah. Kemudian diberikan kepada beliau segelas susu. Rasulullah SAW meminum susu tersebut dan menyerahkannya kepada Aisyah. Aisyah menundukkan kepalanya karena malu. Maka segeralah aku menyuruhnya untuk mengambil gelas tersebut dari Rasulullah SAW.” ([HR Ahmad)

Adapun disunnahkannya untuk bersiwak, karena adab yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau selalu bersiwak setiap hendak masuk rumah sebagaimana disebutkan oleh Aisyah Radhiyallaahu ‘anha dalam Shahih Muslim.

3) Meletekkan tangan pada ubun ubun istri seraya mendoakannya
Sebelum melakukan hubungan, hendaknya suami meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya sambil mendoakan kebaikan untuknya. Dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
Artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.”(HR. Bukhari) 

4) Saat bersenggama harus memakai kain penutup
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh penadzam, bahwa sebagian adab senggama adalah suami hendaknya menyuruh istrinya untuk melepas semua pakaiannya.  ada baiknya jikalau suami yang melepaskan pakaian istrinya. Kemudian suami dan istri bersenggama dalam satu selimut.  Akan tetapi  bukan berarti senggama yang di lakukan itu tanpa penutup sama sekali.

Karena Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian melakukan senggama dengan istrinya , maka jangan telanjang seperti telanjangnya himar”. 

Apabila seorang suami ingin menggauli istrinya, maka janganlah ia terburu-buru, sampai keadaan istrinya benar-benar siap untuk melakukan hubungan, baik secara fisik maupun secara psikis. Artinya si istri sudah sepenuhnya menerima keberadaan suami sebagai bagian dari dirinya, bukan orang lain.
Begitu pula halnya ketika suami telah menyelesaikan hajatnya, jangan pula dirinya terburu-buru meninggalkan istrinya sampai terpenuhi semua hajat istrinya. Artinya, seorang suami ia harus memperhatikan keadaan siistri, perasaannya, dan keinginannya. Begitu juga dengan si istri, intinya harus sama-sama terpenuhi hajatnya. 

6) Tidak boleh melakukan hubungan melalui bubur (haram) .
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang menggauli istrinya ketika sedang haid atau melalui duburnya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.”(HR. Abu Dawud dan At-Tarmidzi)

7) Tidak membicarakan rahasia ranjang mereka kepada orang lain
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya diantara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah SWT pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim)

Bahwa sangat-sangat dilarang bagi pasangan suami istri yang menyebarkan rahasia ranjang mereka kepada orang lain. Baik suami yang menceritakan perihal malamnya kepada orang lain maupun istri yang juga menceritakan perihal malamnya kepada orang lain. Itu termasuk perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. kalau ada aib suami  dan istri, maka sama-sama ditutupkan. Bukankah sebelum menikah kita sudah siap menerima segala kelebihan dan kekurangannya? Oleh karena itu jadikan kekurangan suami sebagai kelebihan bagi istri, dan kekurangan istri  sebagai kelebihan bagi suami. insya Allah kalau demikian yang dilakukan akan terciptanya keluarga yang islami sakinah, mawaddah dan warahmah.




Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam