Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Ummat Islam

Artikel terkait : Larangan Merayakan Tahun Baru Masehi Bagi Ummat Islam


Tak terasa sebentar lagi akan memasuki tahun baru masehi  atau tahun kelender. Tahun baru masehi tak jauh berselang dengan hari natal. Biasanya setelah merayakan hari natal orang-orang kafir menyambut tahun baru masehi dengan semeriah-meriahnya. Tahun baru masehi merupakan tahun baru yang sangat disenangi orang-orang yahudi dan nasrani. Pada malam tahun baru tersebut mereka bersuka ria menghambur-hamburkan uang, minum khamar, berjudi dan bersenang-senang dengan lawan jenis. Dan pada saat jam 12 malam mereka meniup terompet, meletuskan kembang api dan lainnya. Yang tujuan dari itu semua adalah memfoya-foyakan uang. 

Bagi orang kafir, tahun baru masehi merupakan tahun baru bagi mereka. Sehingga mereka dengan suka ria dan mengahmbur-hamburkan uang untuk merayakannya. 

Nah bagaimana dengan orang islam? apakah orang islam boleh merayakannya?
Jawabannya adalah:
Tidak boleh! Orang islam tidak boleh merayakan tahun baru masehi, Karena orang islam mempunyai tahun baru tersendiri yang telah ditetapkan oleh syariat, yaitu tahun baru hijriah. Pada tahun baru hijriahlah kita dianjurkan untuk merayakannya. Yaitu dengan zikir, doa bersama dan dakwah. 

Nah, Kenapa orang islam dilarang untuk merayakan tahun baru masehi?
Karena perayaan tahun baru masehi bukan hari raya umat Islam dan bukan tahun baru ummat islam, tetapi tahun baru masehi adalah hari raya kaum kafir, khususnya ummat Nashrani.
Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan oleh Kaisar Romawi Julius Caesar tahun 46 SM, kemudian diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini lalu diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristen, sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian tahun 1752.
Bentuk perayaan tahun baru di Negara Eropa Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja, ataupun aktivitas non-ibadah, seperti parade, menikmati berbagai hiburan dan lainnya.

Nah Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya bagi seorang muslim untuk ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Hal ini berdasarkan dalil berikut:
1) Dalil pertama yang mengharamkan ummat muslim untuk merayakan tahun baru masehi adalah karena menyerupai kaum kafir.
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits tersebut telah mengharamkan umat muslim untuk menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka. Seperti aqidah mereka, ibadah mereka, hari raya mereka, tahun baru mereka, pakaian khas mereka, perbuatan mereka dan cara hidup mereka.

2) Dalil kedua yang mengharamkan ummat muslim untuk merayakan tahun baru masehi adalah karena tahun baru masehi merupakan hari raya orang-orang kafir.
Hal ini berdasarkan Hadis Rasulullah SAW:
Dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya: Apakah dua hari ini? Mereka menjawab: Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini dengan jelas telah melarang ummat muslim untuk merayakan hari raya kaum kafir (tahun baru masehi). 

Berdasarkan dalil-dalil tersebut dapat disimpulkan bahwa: haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru masehi, seperti dengan meniup terompet, menunggu detik-detik pergantian tahun baru, menyalakan kembang api saat detik memasuki pergantian tahun. memberi ucapan selamat tahun baru, bersuka ria, berfoya-foya, dan sebagainya. Semuanya adalah haram karena perbuatan tersebut termasuk menyerupai kaum kafir . Dan membakar kembang api  termasuk menghambur-hamburkan uang (mubazzir). Karena Sesungguhnya mubazzir itu adalah kawan syaitan (Nauzubillah).

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam