Hukum Akikah Diri Sendiri Setelah Dewasa

Artikel terkait : Hukum Akikah Diri Sendiri Setelah Dewasa

Akikah adalah salah satu bentuk rasa syukur yang dilakukan oleh seseorang atas kelahiran seorang bayi. Dengan ketentuan menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Hukum akikah sendiri adalah sunnah muakkadah (sunat yang dikuatkan). Perintah akikah ini ditujukan kepada bapak dari bayi yang baru lahir tersebut. Karena itu, tidak wajib bagi ibunya atau anak yang diakikahi untuk menunaikannya. 


Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:  “seorang anak tergadai oleh akikahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur, dan diberi nama.” (HR. Imam Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Dari Hadis tersebut jelas bahwa waktu untuk melaksanakan  akikah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Hari ketujuh inilah waktu yang disepakati oleh para ulama untuk melakukan akikah. Maka jika luput dari hari ketujuh, Ulama Malikiyah berpendapat bahwa akikah jadi gugur jika luput dari hari ketujuh. Sedangkan imam Hambali berpendapat bahwa jika luput dari hari ketujuh, akikah boleh dilaksanakan pada hari ke-14, jika tidak pada hari ke-21.

Anjuran akikah ini menjadi tanggung jawab bapak (yang menanggung nafkah anak). Apabila ketika waktu dianjurkannya akikah (misalnya tujuh hari setelah kelahiran), orang tua dalam keadaan fakir atau tidak mampu, maka ia tidak diperintahkan untuk melakukan akikah. Sebagaimana Allah sebutkan didalam Al-Qur’an surat At-Taghabun ayat 16:
Yang Artinya: “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian...”. (QS. At Taghabun: 16)

Ayat tersebut jelas, Allah tidak memeberatkan seseorang yang tidak mampu. Akikah ini dianjurkan bagi orang tua yang mampu, maka menjadi perintah untuk melakukan akikah. Namun, kadangkala tidak semua orang mampu untuk melaksanakan akikah pada waktu yang ditentukan tersebut. Di masyarakat adakalanya akikah dilakukan setelah dewasa. Yang jadi pertanyaaannya adalah Apakah boleh melakukan akikah setelah dewasa?

Inilah pandangan Islam mengenai akikah diri sendiri dan di ketika dewasa:

Suatu hari Imam Ahmad pernah ditanya oleh Abdul Malik: “bolehkah dia (Abdul Malik) berakikah setelah dewasa?” Ia menjawab: “Saya belum pernah mendengar hadis tentang akikah setelah dewasa sama sekali.” Kemudian Imam Ahmad juga mengatakan,:“Siapa yang melakukannya maka itu baik, dan ada sebagian ulama yang mewajibkannya.” (Terdapat didalam kitab Tuhfatul Maudud: 87-88). Ini berarti akikah setelah dewasa itu dibolehkan.

Kewajiban akikah itu memang tidak gugur meskipun tidak dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Namun, sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya. Tetapi  yang dibebankan untuk melaksanakan akikah adalah bapak (ayah), namun bagaimana jika anak tersebut sewaktu kecil belum diakikahi oleh bapaknya, namun setelah ia dewasa ia ingin mengakikahi dirinya sendiri karena ia telah mampu, apakah boleh?

Ibnu Qudamah mengatakan jika seorang anak belum diakikahi sama sekali, kemudian baligh dan telah bekerja, maka dia tidak wajib untuk mengakikahi dirinya sendiri. Sedangkan menurut Imam Atha dan Hasan Al Basri mengatakan: dia boleh mengakikahi dirinya sendiri karena akikah itu dianjurkan baginya dan ia tergadai dengan akikahnya. Karena itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.

Disebutkan di dalam kitab Masail Al Maaimuni, Imam Ahmad pernah ditanya: “Jika ada orang yang belum diakikahi, apakah boleh dia akikah untuk dirinya sendiri ketika dewasa?”  Imam Ahmad mengatakan: “Jika ada orang yang melaksanakannya, maka saya tidak membencinya.”

Dari pernyataan tersebut, Syek Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa pendapat yang lebih utama yaitu dianjurkan untuk melakukan akikah diri sendiri. Karena akikah merupakan sunnah yang dikuatkan (ditekankan). Apabila orang tua kita tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh atau pada saat kita bayi, maka disyariatkan untuk melakukan akikah tersebut jika telah mampu. Dan apabila orang tua kita tidak mampu melakukan akikah untuk kita sampai kita tumbuh dewasa sekarang ini. Maka boleh bagi kita untuk melakukan akikah diri  kita sendiri.

Sebagaimana ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa akikah masih jadi tanggung jawab bapak hingga waktu si anak tersebut baligh. Jika sudah dewasa, akikah jadi gugur. Namun anak punya pilihan untuk mengakikahi diri sendiri.

Penulis kitab Mughnil Muhtaj, Asy Syarbini rahimahullah berkata: “Jika telah mencapai usia baligh, hendaklah anak mengakikahi diri sendiri untuk mendapati yang telah luput”.

Wallahu A’lam….

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam