Pengertian, Rukun, Syarat Dan Macam-Macam Syirkah

Artikel terkait : Pengertian, Rukun, Syarat Dan Macam-Macam Syirkah


Dalam syariat islam telah dijelaskan tentang jual beli, syarat jual beli, rukun dan ketentuan-ketentuan dalam jual beli. Terlepas dari hal  itu materi jual beli yang dilarang juga disebutkan didalam ajaran islam, seperti: riba dan syirkah. Untuk riba tentunya banyak dari kita yang sudah mengetahui. Karena riba adalah hukumnya haram dan dilarang didalam islam. Namun bagaimana dengan syirkah? Apakah syirkah juga dilarang didalam islam? Syirkah  juga merupakan hal yang sangat dilarang dalam agama islam dalam jual beli. Untuk itu mari kita simak penjelasan berikut ini:



1. Pengertian Syirkah

Menurut bahasa, kata syirkah (perseorangan) mempunyai arti “mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dan bagian yang lain”. Sedangkan menurut istilah syara’ syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Landasan hukum syirkah disebutkan di dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 34 :
Artinya:  “ Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian dari mereka itu berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS. Shad: 34)

Dalam Hadis Rasulullah SAW disebutkan: “Aku ini ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah seorang mereka tidak mengkhianati temannya.  Apabila salah seorang telah berkhianat terhadap temannya, aku akan keluar dari antara mereka.”

2. Rukun dan Syarat Syirkah

1) Dua belah pihak yang berakad (aqidam).
Syarat orang yang melakukan akad adalah:

  • Harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan tasarruf (pengelolaan harta).
2) Objek akad yang disebut juga ma'qud 'alaihi mencakup pekerjaan ataupun modal.
Syarat pekerjaan atau benda yang dikelola dalam syirkah adalah:

  • Harus halal dan diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan.
3) Akad atau yang disebut juga dengan istilah sigat.
Syarat sah akad adalah:

  • Harus berupa tasarruf, yaitu adanya aktivitas pengelolaan.
3. Macam-Macam Syirkah

1) Syirkah Inan

Syirkah inan yaitu syirkah antara dua pihak atau lebih yang masih-masing memberi kontribusi kerja (amal) dan modal (mal). Syirkah Inan ini hukumnya boleh berdasarkan dalil sunnah dan ijimak sahabat.

Contoh syirkah inan seperti:
Dina dan Dewi merupakan sarjana lulusan informatika. Mereka berdua bersepakat akan menjalankan bisnis jasa perancangan dan pembangunan sistem informasi guna organisasi pemerintahan maupun swasta. Masing-masing memberikan kontribusi modal sebesar Rp 80.000.000,. Selain itu, dina dan dewi  bersama-sama bekerja dalam syirkah tersebut. Syirkah ‘Inan modalnya disyaratkan harus berupa uang. Selain itu, barang-barang misalnya rumah atau kendaraan yang menjadi fasilitas tidak boleh dijadikan modal, kecuali apabila barang-barang tersebut dihitung nilainya pada saat akad. Keuntungan didasarkan pada kesepakatan yang telah dilakukan sebelumnya dan kerugian ditanggung oleh masing-masing syarik atau mitra usaha berdasarkan porsi modal. Apabila masing-masing modalnya 80%, maka masing-masing harus menanggung kerugian sebesar 80%.

2) Syirkah Abdan

Syirkah abdan yaitu syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan kontribusi kerja (amal), tanpa kontribusi modal (amal). Kontribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti penulisan naskah) ataupun fisik (seperti tukang batu). Syirkah ini  juga disebut syirkah amal.
Contoh Syirkah ‘abdan  seperti:

Budi dan Tomi sama-sama menjadi seorang nelayan dan bersepakat untuk melaut bersama-sama guna mencari ikan. Budi dan Tomi juga sepakat jika mendapatkan ikan akan dijual dan hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: Budi  memperoleh sebesar 70% dan Tomi memperoleh sebesar 30%. Syikah ‘abdan tidak harus dilakukan berdasarkan pekerjaan yang sama. Boleh juga dilakukan oleh pekerjaan yang berbeda, tetapi perlu diketahui pula pekerjaan yang dilakukan itu adalah pekerjaan yang halal bukan pekerjaan yang haram. Keuntungan yang diperoleh dari syirkah ini dibagi berdasarkan kesepakatan yang telah diatur sebelumnya, porsinya boleh sama atau tidak sama di antara syarik (mitra usaha).

3) Syirkah Wujuh

Syirkah wujuh yaitu kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wujuh ialah syirkah antara dua pihak yang sama-sama memberikan kontribusi kerja (amal) dan pihak ketiga yang memberikan kontribusi modal (mal).
Contoh Syirkah wujuh seperti:

Maya dan lisa merupakan tokoh yang dipercaya pedagang. Maya dan lisa bersyirkah wujuh dengan cara membeli barang dari seorang pedagang secara kredit. Maya dan lisa membuat kesepakatan bahwa masing-masing mempunyai 50% dari barang yang dibeli. Selanjutnya, Maya dan Lisa menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi menjadi dua. Sementara itu, harga pokoknya dikembalikan kepada pedagang.

4) Syirkah Mufawadah

Syirkah mufawadah yaitu syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas.
Syirkah mufawadah dalam pengertian ini boleh dipraktekkan. sebab setiap jenis syirkah yang sah berarti boleh digabungkan menjadi satu. Keuntungan yang diperoleh dari syirkah ini dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai jenis syirkahnya, yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal jika berupa syirkah inan, atau ditanggung pemodal saja jika berupa mufawadah, atau ditanggung mintra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki juga berupa syirkah  wujuh.

Contoh Syirkah mufawadhah seperti:
Mona adalah pemodal, berkontribusi modal kepada Ema dan Ami. Setelah itu, Ema dan Ami juga sepakat untuk berkontribusi modal untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada Ema dan Ami. Dalam hal ini, pada awalnya yang terjadi adalah syirkah ‘abdan, yaitu ketika Ema dan Ami  sepakat masing-masing bersyirkah dengan memberikan kontribusi kerja saja. Namun, ketika Mona memberikan modal kepada Ema dan Ami berarti di antara mereka bertiga terwujud mudharabah. Dalam hal ini, Mona sebagai pemodal, sedangkan Ema dan Ami sebagai pengelola. Ketika Ema dan Ami sepakat bahwa masing-masing akan memberikan kontribusi modal, di samping kontribusi kerja, berarti terwujud syirkah ‘inan di antara Ema dan Ami. Disaat Ema dan Ami membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wujuh antara Ema dan Ami.

Demikian  sedikit pembahasan tentang syirkah, rukun, syarat dan macam-macam syirkah, semoga bermanfaat!

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam