Pengertian Dan Perbedaan Talak, Khulu’ Dan Fasakh

Artikel terkait : Pengertian Dan Perbedaan Talak, Khulu’ Dan Fasakh


Perceraian, perceraian memang dibolehkan dalam agama. Namun perbuatan tersebut merupakan salah satu perbuatan yang halal tetapi sangat dibenci oleh Allah SWT. Perceraian ini dipilih diketika dibutuhkan saja. Yaitu apabila mempertahankan pernikahan tersebut maka akan mengakibatkan mudharat yang sangat besar. Namun apabila tidak ada alasan yang sesuai dengan syariat islam. Maka perceraian tersebut makruh dilakukan. Karena tujuan pernikahan adalah membina keluarga yang baik, aman, damai, tentram  sampai akhir hayat kelak. 



Islam adalah agama yang benar, didalam Syariat Islam, Allah telah  memberikan jalan keluar bagi pasangan suami istri, ketika mereka tidak lagi merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam membina rumah tangganya. Maka boleh menempuh jalan cerai. Baik dalam bentuk cerai itu berada di tangan suami atau gugat cerai sebagai jalan keluar bagi istri yang tidak memungkinkan lagi untuk tinggal bersama suaminya, dengan cara khulu’ atau fasakh.  Dan kesemuanya harus dilakukan dengan aturan yang telah ditetapkan dalam syariat islam.

Untuk mengetahui perbedaan talak, khulu’ dan fasakh, mari kita simak penjelasan berikut:

1) Talak

Talak menurut bahasa adalah “melepaskan ikatan, meninggalkan dan memisahkan”.  Sedangkan menurut istilah talak adalah “putusnya tali pernikahan yang telah dijalin oleh suami istri”.
Talak ini merupakan jalan terakhir bagi pasangan suami istri, jika pernikahannya sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Talak ini merupakan ucapan dari suami (suami yang mentalakkannya), bukan dari istri.

Talak memang boleh dilakukan dan halal hukumnya, namun perbuatan tersebut paling dibenci oleh Allah SWT. Hal ini sesuai   dengan Hadis Rasulullah SAW:
“Dari Ibnu Umar, ia berkata bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Sesuatu yang halal yang sangat dibenci olah Allah SWT ialah talak.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

2) Khulu’

Khuluk adalah talak yang diucapkan oleh suami dengan cara istri membayar ganti rugi atau mengembalikan mahar yang pernah diterima istri dari dari sang suami.
Khuluk ini dilakukan suami atas permintaan istri, karena sikap suami yang telah melanggar dengan ketentuan pernikahan. Apabila pernikahan tersebut dipertahankan maka akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan pernikahan.
Nah ketika seorang istri mengajukan khuluk, ia memberikan ganti rugi kepada suaminya dengan cara mengembalikkan seluruh atau sebagian mahar yang pernah diterimannya. Selain itu, tebusan atau ganti rugi tersebut juga dapat dilakukan dengan harta lain yang bukan mahar.
Adapun dalil haditsnya adalah sebuah hadits shahih yang mengisahkan tentang istri Tsabit bin Qais bin Syammas bernama Jamilah binti Ubay bin Salil yang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta cerai karena tidak mencintai suaminya lagi. Rasulullah SAW kemudian menceraikan dia dengan suaminya setelah sang istri mengembalikan mahar. (HR. Bukhari)
Hukum khulu’:

Adapun hukum asal dari khulu’ adalah boleh menurut ijma’ ulama baik tebusannya berupa seluruh mahar atau sebagian mahar atau harta lain yang lebih sedikit atau lebih banyak. Khulu’ ini sah dalam keadaan konflik ataupun damai.

Adapun dalil haditsnya adalah sebuah hadits shahih yang mengisahkan tentang istri Tsabit bin Qais bin Syammas bernama Jamilah binti Ubay bin Salil yang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta cerai karena tidak mencintai suaminya lagi. Rasulullah SAW kemudian menceraikan dia dengan suaminya setelah sang istri mengembalikan mahar. (HR. Bukhari)
“Dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah SAW bersabda: Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya mencium bau surga”.  (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

3) Fasakh

Fasakh merupakan pengajuan cerai oleh sang istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
1) Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama 6 bulan berturut-turut.
2) Suami meninggalkan istrinya selama 4 tahun berturut-turut tanpa ada kabar atau berita sedikit pun.
3) Suami tidak melunasi mahar yang telah disebutkan saat akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya, sebelum terjadinya hubungan suami istri.
4) Adanya perlakuan buruk oleh suami kepada sang istri seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan lain yang membahayakan keselamatan sang istri.

Nah  jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan  hubungan perkawinan antara keduanya.

Semoga bermanfaat!

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam