Macam-Macam Aliran Dalam Islam

Artikel terkait : Macam-Macam Aliran Dalam Islam


Aliran dalam Islam mulai muncul pada saat perang Siffin (37 H) pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah. Pada saat tentara Ali mendesak tentara Mu'awiyah maka Mu'awiyah meminta diadakan perdamaian. Sebagian dari tentara Ali menyetujui perdamaian ini, dan sebagiannya lagi menolaknya. Kelompok yang tidak setuju inilah akhirnya memisahkan diri dari Ali, dan membentuk kelompok sendiri yang akhirnya terkenal dengan nama Khawarij.  Mereka menganggap Ali, Mu'awiyah dan orang-orang yang menerima perdamaian ini telah berbuat salah atau dosa besar. Karenanya mereka bukan mukmin lagi dan boleh dibunuh.
Masalah dosa besar ini kemudian menimbulkan beberapa aliran (teologi) dalam Islam diantaranya yaitu:


1) Khawarij
Khawarij adalah orang-orang yang keluar, yaitu setiap orang yang keluar dari Imam yang berhak yang telah disepakati oleh masyarakat. Kelompok Khawarij yang pertama ialah Al- Muhakkimah (Syuroh/Haruriyyah) yaitu pengikut Ali yang memisahkan diri karena tidak setuju adanya perdamaian antara beliau dengan Mu’awiyah saat perang Siffin.  Karena mereka ini menganggap Ali dan orang-orang yang menyetujui perdamaian tadi adalah orang-orang kafir dan halal darahnya.

Pendapat-pendapat aliran khawarij yaitu :
- Pelaku dosa besar adalah kafir.
- Imam boleh dipilih dari suku apa saja asal ia sanggup menjalankannya.
- Keluar dari Imam adalah wajib apabila Imam tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
- Anak-anak orang kafir berada di neraka.
- Membatalkan hukum rajam karena tidak ada dalam Al-Quran .
- Surat Yusuf bukan termasuk Al-Quran karena mengandung cerita cinta.
- Orang yang tidak sepaham dengan mereka bahkan anak istrinya boleh ditawan, dijadikan budak atau dibunuh (Al-Azariqoh) sedang menurut Al-Ibadiyah mereka bukan mukmin dan bukan kafir, karena itu boleh bermuamalat dengan mereka, dan membunuh mereka adalah haram.

2) Syi'ah
Sy'iah memiliki arti pengikut atau penolong, dan diucapkan untuk sekelompok manusia yang bersatu/berkumpul dalam satu masalah, dan kepada setiap orang yang menolong seseorang dan berhimpun membentuk suatu kelompok padanya. Kata ini dipergunakan untuk kelompok yang menolong dan membantu khalifah Ali dan keluarganya, lalu menjadi nama khusus bagi kelompok ini.
Menurut Asy-Syihristaniy, Syi'ah adalah kelompok yang mengikuti Khalifah 'Ali dan menyatakan kepemimpinannya baik secara nash ataupun wasiat yang adakalanya secara jelas ataupun samar, dan mereka berkeyakinan bahwa kepemimpinan (Imamah) tidak keluar dari anak-anaknya, dan jika keluar darinya maka itu terjadi secara zalim atau sebab taqiyah darinya.  Syiah ini banyak tersebar di India, Pakistan, Afrika Utara , Eropa dan Amerika. Dan yang paling banyak mempunyai pengikut di dunia tersebar di Iran, Irak, Lebanon, India, Pakistan dan bahkan di Arab Saudi serta negara-negara Teluk. 

Pendapat-pendapat mereka adalah:
- Mengkafirkan sahabat Nabi yang tidak mendukung Ali.
- Kepemimpinan (Imamah) merupakan satu dari beberapa pokok keimanan.
- Memandang Imam Itu ma'shum (orang suci)
- Wajib adanya Imam yang tersembunyi (Al-Imam Al- Mastur)
- Tidak mengamalkan hadits kecuali dari jalur keluarga Nabi Muhammad (Ahli Bait).
- Memperbolehkan taqiyah
- Tidak menerima ijma dan qiyas.
- Wajib sujud di atas tanah atau batu .
- Memperbolehkan nikah mut'ah.
- Tidak melakukan shalat Jumat karena Imam yang asli tidak ada.
- Al-Quran yang sekarang mengalami perubahan dan pengurangan, sedangkan yang asli berada di tangan Al-Imam Al-Mastur.

3) Murji'ah
Murji'ah memiliki arti menangguhkan. Kaum Murjiah yang muncul pada abad I Hijriyyah merupakan reaksi akibat adanya pendapat Syi’ah yang mengkafirkan sahabat yang menurut mereka merampas kekhalifahan dari Ali, dan pendapat Khawarij yang mengkafirkan kelompok Ali dan Muawiyah. Pada saat itulah muncullah sekelompok umat Islam yang menjauhkan dari pertikaian, dan tidak mau ikut mengkafirkan atau menghukum salah dan menangguhkan persoalannya sampai dihadapan Allah SWT. Pemimpin dari kaum Murji’ah adalah Hasan bin Bilal (pada tahun 152 H). 

Pendapat-pendapat mereka adalah :
- Orang berdosa bukan kafir dan tidak kekal dalam neraka.
- Maksiat atau pekerjaan-pekerjaan jahat tidak merusak iman.
- Menangguhkan hukuman orang yang berdosa di akhirat.
- Yang dimaksud ibadah adalah iman, sedangkan shalat, puasa, zakat dan haji hanya            menggambarkan kepatuhan saja.
- Orang Islam yang percaya kepada Allah kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidak menjadi kafir , karena iman itu letaknya di dalam hati, bahkan meskipun melakukan ritual agama-agama lain.

4) Jabariyah
Jabariyah artinya paksaan. Aliran ini ditonjolkan pertama kali oleh Jahm bin Safwan (pada tahun 131 H), sekretaris Harits bin Suraih yang memberontak pada Bani Umayyah di Khurasan. Meski demikian sebelumnya sudah ada dalam umat Islam yang membicarakan tentang hal ini. seperti surat sahabat Ibnu Abbas dan seorang tabi’in AlHasan AlBashriy kepada penganut paham ini. 

Pendapat-pendapat mereka adalah :
- Iman cukup dalam hati saja walau tidak diikrarkan dengan lisan.
- Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya tetapi dipaksa oleh Allah.

5) Qadariyah
Qodariyyah yang mempunyai arti mampu atau berkuasa. Pemimpin aliran ini yang pertama adalah Ma'bad Al-Juhani dan Ghailan Ad-Dimasyqiy. Keduanya dihukum mati oleh penguasa karena dianggap menganut paham yang salah.

Pendapat-pendapat mereka adalah:
- Manusia sendirilah yang melakukan pebuatannya sendiri, dan Tuhan tidak ada hubungan sama sekali dengan perbuatannya itu.

6) Mu'tazilah
Mu'tazilah berarti manjauhkan diri. Asal mula kata ini adalah suatu saat ketika Al-Hasan Al- Bahsriy (pada tahun 110 H) sedang mengajar di masjid Basrah. Lalu datanglah seorang laki-laki bertanya tentang orang yang berdosa besar. Maka ketika ia sedang berpikir, maka  menjawablah salah satu muridnya Wasil bin Atha’ : “Saya berpendapat bahwa ia bukan mukmin dan bukan kafir, tetapi mengambil posisi diantara keduanya”.  Kemudian ia menjauhkan diri dari majlis Al-Hasan dan pergi ketempat lain dan mengulangi pendapatnya. Maka Al-Hasan menyatakan : Washil menjauhkan diri dari kita.

Pendapat-pendapat mereka adalah :
- Orang Islam yang berdosa besar bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi berada di antara keduanya.
- Meniadakan sifat-sifat Tuhan, artinya sifat Tuhan tidak mempunyai wujud sendiri di luar zat Tuhan
- Siksaan di neraka dan kenikmatan di surga tidak kekal.
- Baik dan buruk dapat ditentukan dengan akal
- Al-Quran bukan qadim (kekal) tetapi hadits (baru)
- Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti
- Hanya mengakui Israk Rasulullah SAW ke Baitul Maqdis, tetapi tidak mengakui Mi'rajnya ke langit
- Tidak mempercayai wujud Arsy dan Kursi Allah, Malaikat pencatat amal, Adzab kubur.
- Tidak mempercayai adanya Mizan,  Hisab, Shiratul Mustaqiim, dan Syafa'at nabi di hari Kiamat.
- Tuhan bersifat bijaksana dan adil, tidak dapat berbuat jahat dan zalim. Manusia sendirilah yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan perbuatannya yang baik dan jahat, iman dan kufurnya, ta'at dan tidaknya.

7) Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Disebut kelompok Ahlus Sunnah wal Jama'ah karena pandapat mereka berpijak pada pendapat-pendapat para sahabat yang mereka terima dari Rasulullah SAW . Kelompok ini disebut juga kelompok ahli hadits dan ahli fiqih karena merekalah pendukung-pendukung dari aliran ini. Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah mulai dikenal pada saat pemerintahan bani Abbasy. Dimana kelompok Mu'tazilah berkembang pesat, sehingga nama Ahlus Sunnah dirasa harus dipakai untuk setiap manusia yang berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah. Ibnu Hajar al-Haitamiy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang mengikuti rumusan yang digagas oleh Imam Asy'ariy dan Imam Maturidi. 

Pendapat-pendapat mereka adalah:
- Hukum Islam di dasarkan atas Al-Quran dan Al-Hadits.
- Mengakui Ijmak dan Qiyas sebagai salah satu sumber hukum Islam.
- Al-Quran adalah Qodim bukan hadits.
- Menetapkan adanya sifat-sifat Allah.
- Orang Islam yang berdosa besar tidaklah kafir.

Semoga bermanfaat!


Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam