Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW Yang Sangat Mengharukan

Artikel terkait : Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW Yang Sangat Mengharukan


 Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun. Dikisahkan pada pagi itu, Rasulullah SAW sedang memberikan khutbah. Dengan suara  terbata menyampaikan  nasehat terakhir kepada ummatnya: "Wahai umatku, perhatikanlah dengan baik apa yang aku sampaikan hari ini, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih bisa berada diantara kalian. Oleh karena itu dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang tidak dapat hadir pada hari ini".

 "Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan kasih sayang-Nya. Maka taatilah dan bertakwalah kepada Allah. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku. Apabila kalian berpegang tegung kepada keduanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya. Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku, dan barangsiapa yang mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga nanti. Dan sampaikanlah dariku (Rasulullah) walaupun satu ayat". 


Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah SAW yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Dan Abu Bakar pun menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar pun tak sanggup menahan air matanya yang terus mengalir. Usman menghela napas panjang dengan kesedihan yang sangat mnedalam. Dan Ali pun menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil mengalirkan air matanya. Syarat itu telah datang, saatnya sudah tiba bahwa Rasulullah SAW akan meninggalkan kita semua. Desah hati semua sahabat dikala itu. 


Tanda-tanda itu semakin mendekat, tatkala Ali dan Fatimah memegang Rasulullah SAW yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. kalau bisa, Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah SAW masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah SAW sedang berbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat hingga membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tempat tidurnya.


Tiba-tiba dari luar pintu tersebut, terdengarlah suara  seorang yang berseru mengucapkan salam: Bolehkah saya masuk? Tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk: Maaf, ayahku sedang demam, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata, dan bertanya kepada Fatimah: Siapakah itu wahai anakku? Aku tidak tahu ayah, sepertinya baru kali ini aku melihatnya ayah, tutur Fatimah dengan  lembut. Lalu, Rasulullah SAW menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. Rasulullah SAW pun berkata kepada Fatimah : “ketahuilah wahai putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, dialah Malaikat maut. Mendengar hal itu Fatimah pun menahan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut menyertainya.


Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit menyambut ruh kekasih Allah yang sangat mulia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”  tanya Rasululllah SAW dengan suara yang sangat lemah.”Pintu-pintu langit telah terbuka untukmu, para malaikat telah menanti ruhmu dan Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu wahai kekasih Allah." kata Jibril.

Tetapi semua itu  ternyata tidak membuat Rasulullah SAW lega, matanya masih dengan penuh kecemasan. Melihat hal itu, Jibril bertanya: Apakah Engkau tidak senang mendengar kabar ini? Kabarkan kepadaku wahai Jibril, bagaimana nasib umatku kelak? Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah SWT berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. Mendengar hal itu baru rasulullah SAW merasa lega.

Detik-detik semakin mendekat, kini saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan-lahan ruh Rasulullah SAW ditarik, tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, dan urat-urat lehernya menegang. Wahai Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini? Lirih Rasulullah SAW, Sambil melihat mata Fatimah terpejam, Ali pun yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah Engkau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Wahai Jibril?" Tanya Rasulullah. Kemudian  Jibril menjawab: siapakah yang tega melihat kekasih Allah direnggut ajal?

Kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyatnya sakaratul maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan Engkau timpakan kepada ummatku". Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, kemudian Ali segera mendekatkan telinganya. “Ushiikum bish shalati, wa maa malakat aimanukum" (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu).


Di luar pintu sana tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatii" (ummatku, ummatku, ummatku). kemudian pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. 

Subhanallah! Begitu cinta dan sayangnya Rasulullah SAW kepada kita ummatnya. Beliau rela berkorban demi kita. Bahkan Beliau rela menanggung sakitnya sakaratul maut yang dihadapi ummatnya untuk dirinya sendiri. Asalkan jangan kepada ummatnya. Subhanallah Ya Allah. Kini mampukah kita mencintai beliau sebagaimana beliau mencintai kita? Allahumma Shalli Wasallim Wabarik ‘Alaih……


Demikian, semoga bermanfaat



Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam