Batasan Aurat Wanita Didepan Mahramnya

Artikel terkait : Batasan Aurat Wanita Didepan Mahramnya


Aurat adalah mahkota insan yang harus ditutupi dari pandangan yang bukan muhrimnya. Tidak hanya  saat melakukan shalat, namun di luar shalat pun aurat tidak boleh terlihat. Batasan aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut sedangkan batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.  Bagian aurat ini adalah haram dilihat oleh yang bukan muhrimnya. Maka jagalah aurat kita, kepada siapa yang boleh Nampak dan kepada siapa yang haram dinampakkan. Bahkan sesama muhrim pun ada batasan aurat tersendiri.  Berikut kami jelaskan batasan aurat wanita didepan mahramnya;



1. Batasan aurat wanita didepan mahramnya dan yang bukan mahramnya

Ada  empat batasan aurat wanita  yang harus dipahami baik didepan muhrimnya maupun yang bukan muhrimnya:

1) Sesama mahram dan di kalangan wanita boleh melihat tubuh wanita, kecuali bagian antara pusar dan lutut. Namun juga harus melihat di tempat yang sepi misalnya di rumah atau kamar pribadi, atau tidak sedang di tempat umum atau bercampur dengan yang bukan muhrim dan wanita non muslim.

Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abu Salamah Radhiyallahu ‘Anhu:  “Aku dan saudara ‘Aisyah datang kepada ‘Aisyah, lalu saudaranya itu bertanya kepadanya tentang mandi yang dilakukan oleh Nabi SAW. Lantas ‘Aisyah meminta wadah yang berisi satu sha’ (air), kemudian ia mandi dan mengucurkan air di atas kepalanya. Sementara antara kami dan beliau ada tabir”.

Dari hadis tersebut dijelaskan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah bahwa, yang nampak dari hadits tersebut adalah bahwa keduanya (yakni Abu Salamah dan saudara ‘Aisyah) melihat apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah pada kepala dan bagian atas tubuhnya, di mana itu adalah bagian yang boleh dilihat oleh seorang muhrim, dan ‘Aisyah adalah bibinya Abu Salamah karena persusuan, sementara ‘Aisyah meletakkan tabir untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, karena bagian tersebut adalah bagian yang tidak boleh dilihat oleh sesame muhrimnya.

2) Hendaklah seorang wanita menutup seluruh tubuhnya ketika bersama wanita non muslim (kafir).

3) Hendaklah seorang wanita menutup seluruh tubuhnya ketika ada laki-laki yang bukan muhrimnya.

4) Hendaklah seorang wanita menutup seluruh tubuhnya  dihadapan laki-laki yang bukan muhrimnya, kecuali telapak tangan dan muka  ketika shalat.

Ibnu Qasim Al Ghazzi  berkata bahwa, “Aurat muslimah merdeka di dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, termasuk dalam telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan. Adapun aurat muslimah merdeka di luar shalat adalah seluruh tubuhnya. Ketika sendirian aurat muslimah adalah antara pusar dan lutut.”  (Fathul Qorib 1: 116).

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wanita muslimah yang menutup auratnya harus melihat dan memperhatikan situasi dan kondisi di mana dia berada. Dan juga harus memperhatikan bersama siapa dia pada saat itu, Jika ia berada bersama wanita sesama wanita muslim lainnya, maka dia diperbolehkan membuka aurat kecuali bagian di antara pusar dan lutut (asalkan tidak menimbulkan syahwat). Namun, jika ia berada sesama wanita non muslim, maka dia tetap harus menutupi seluruhnya. 
 

2. Batasan aurat wanita didepan mahramnya (ayah, kakak, adik dan mahram lainnya)

Nah bagaimana dengan aurat wanita didepan muhrimnya (ayah, kakak, adik dan semua anggota keluarganya yang laki-laki)? bolehkah menampakkan rambutnya atau bahkan dadanya di hadapan ayah atau kakaknya atau mahram yang lain?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat:

Pendapat pertama:  yaitu pendapat dari ulama Malikiyah, Hambali bahwa aurat wanita di hadapan sesama mahramnya adalah selain wajah, kepala, kedua telapak tangan dan kaki. Ini berarti tidak boleh membuka dadanya, payudaranya dan semacam itu di hadapan sesama mahram karena masih tergolong aurat. Begitu pula dengan ayah wanita tersebut diharamkan untuk melihat anggota tubuh tersebut walaupun tanpa syahwat /nafsu.

Pendapat kedua: yaitu pendapat ulama Hanafiyah, bahwa aurat wanita dengan sesama mahramnya yaitu antara pusar dan lutut. Begitu pula yang termasuk aurat adalah punggung dan perut. Selain aurat tersebut boleh untuk dipandang oleh sesama mahram selama aman dari fitnah (godaan) dan selama tidak dengan syahwat (nafsu).

Pendapat ketiga:  yaitu pendapat ulama Syafi’iyah bahwa boleh laki-laki memandang wanita yang masih mahram dengannya selain antara pusar dan lutut. Mahram yang dimaksud di sini adalah karena sebab nasab, persusuan atau pun pernikahan yang sah. Dan Ulama Syafi’iyah juga ada yang berpandangan lain sama seperti pendapat pertama, yaitu boleh memandangi mahram hanya pada bagian tubuh yang biasa dipandang ketika ia bekerja di dalam rumah. Yaitu yang boleh dipandang berarti adalah kepala, leher, tangan hingga siku dan kaki hingga lutut.

Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang boleh terlihat bagi mahram hanyalah yang wajar dilihat seperti wajah, rambut, leher, telapak tangan dan telapak kaki. Selain itu berarti termasuk aurat dan tidak boleh ditampakkan. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31 :

Artinya: “Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam …” (QS. An-Nur: 31).

Oleh karena itu, maka jagalah aurat kita kepada siapa yang boleh dinampakkan dan kepada siapa yang haram dinampakkan. Karena menutup aurat adalah wajib hukumnya , sebagaimana Allah sebutkan didalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 dan An-Nuur ayat 31. Mudah-mudahan kita menjadi muslimah yang khaffah menutup aurat.  Amin Ya rabbal ‘Alamin………….



Demikian, semoga bermanfaat!

Artikel Akidah Islam Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 Akidah Islam